Postingan

Menampilkan postingan dengan label HARI MINGGU

BELAJAR DARI “JOJO”

Gambar
Minggu, 9 September 2018 BELAJAR DARI “JOJO” Markus 7: 31-37 Beberapa tahun lalu, saya tinggal di panti asuhan. Di sana saya bertemu banyak orang cacat fisik. Saya kagum dengan seorang anak kecil yang bukan saja tuli tetapi juga tidak bisa bicara. Komunikasi kami waktu itu hanya dengan bahasa simbol. Misalnya dengan memperagakan cara mengambil sendok dan memasukkannya ke mulut untuk mengatakan makan. Sedangkan untuk minum kami memperagakan cara memegang gelas lalu memasukkannya ke mulut. Kekaguman saya makin besar saat saya tahu bahwa dia mengerti bahasa simbol saya. Kedua bahasa simbol di atas hanyalah contoh dan biasa kami gunakan dalam komunikasi sehari-hari dengan mereka. Reaksinya masih saya ingat saya dia mengerti bahasa saya: dia akan tersenyum dan melihat saya. Dalam Injil hari ini, kita berjumpa dengan orang semacam ini. Orang-orang membawanya pada Yesus. Sayangnya dia tidak bisa berkomunikasi dengan Yesus. Mulut dan telinganya tertutup. Yesus pun memperla...

CINTA AGAPE ALA YESUS

Gambar
Minggu, 6 Mei 2018 CINTA AGAPE ALA YESUS Yoh 15: 9-17 FOTO: pinterest.com Hari-hari ini, tema cinta menjadi menu Injil harian. Kita selalu bersinggungan dengan tema cinta tiap kali mendengar bacaan dari Yohanes. Sebagaimana kita tahu, dalam Yohanes, Yesus berbicara secara langsung; saya mengatakan, saya meminta kalian, dan sebagainya. Dalam Injil Sinoptik biasanya jarang seperti ini. Seperti Injil hari ini mengisahk an bagaimana Yesus memerintah murid-Nya untuk mencintai satu sama lain. Menarik juga karena Ia mencintai mereka lalu menyuruh mereka mencintai seperti Yesus mencintai mereka. Perintah setelah beri contoh. Cinta ini adalah cinta Kristiani. Yesus menyuruh kita juga untuk saling mencintai. Mencintai di sini unik karena kita mencintai seperti kita dicintai oleh Yesus. Kita mencintai bukan dengan model cintai duniawi. Mencintai ala Yesus adalah cinta agape: cinta tanpa mengharapkan imbalan. Ayah dan Ibu kita pada umumnya mencintai kita dengan cinta AGAPE kare...

AKULAH POKOK ANGGUR DAN KAMU RANTINGNYA

Gambar
Minggu, 29 April 2018 AKULAH POKOK ANGGUR DAN KAMU RANTINGNYA Yoh 15: 1-8 FOTO: duniaplant.blogspot.com Injil Minggu Paskah ke-5 ini amat menarik. Yesus menyebut dirinya Pokok Anggur dan kita sebagai ranting-rantingnya. Dari sini tampak bahwa Yesus ingin bersatu dengan kita. Ia ingin agar kita hidup dengan-Nya.  Ranting akan selalu menyatu dengan pohonnya. Buah yang dihasilkan berasal dari pohon. Maka, ranting memang mesti menyatu dengan pohon. Kita mesti menyatu dengan Yesus.  Yang tidak berbuah—kata Yesus—akan dipotong agar menghasilkan buah. Kita memang seperti anggur itu. Jika kita tidak menyatu dengan Yesus kita akan seperti ranting yang tidak berbuah.  Maka, kita mesti menyatu dengan pokok anggur yakni Yesus. Sarana persatuan ini banyak: Sabda Tuhan, Sakramen-sakramen, dan praktik devosi. Melalui sarana inilah kita menyatu dengan Yesus.  Cobaan hidup kita adalah proses menuju pembuahan. Jika kita menyatu dengan Yesus, cobaan itu ...

YESUS GEMBALA YANG BAIK

Gambar
YESUS GEMBALA YANG BAIK Minggu, 22 April 2018 Yoh 10: 11-18 FOTO: jesusfound.me Bertepatan dengan Minggu Panggilan, hari ini Injil berbicara tentang Gembala yang baik. Gembala yang baik ini yang adalah Yesus sendiri memiliki 2 karakter utama: memberikan nyawanya dan mengenal domba-dombanya. Dalam Kitab Suci bahasa Italia nyawa diganti dengan hidup. Memang nyawa adalah hidup. Gembala yang baik adalah Dia yang memberi kan hidupnya. Kata "memberi" amat penting, muncul 5x dalam Injil hari ini. Memberi berkaitan juga dengan "mengenal". Dia yang memberi akan mengenal dia yang menerima.  Yesus adalah gembala kita. Dia mengenal kita dan memnerikan nyawa untuk kita. Itulah sebabnya Dia bisa melindungi kita kapan dan dimana saja.  Kita sebagai pengikut Yesus juga kiranya bisa meniru sikap Yesus ini: memberikan nyawa dan mengenal sesama.  SELAMAT HARI MINGGU

ROTI ITU MENGINGATKAN MEREKA

Gambar
Minggu, 15 April 2018 ROTI ITU MENGINGATKAN MEREKA  (Luk 24: 35-48) FOTO: flickriver.com Betapa berharganya roti yang Yesus pecahkan itu. Roti itu menjadi titik balik bagi dua murid di Emaus. Melihat itu, mereka sadar ini Yesus. Sebelumnya, Yesus bersama mereka namun mereka tidak tahu betul siapakah itu. Yesus membuka mata mereka melalui pemecahan roti itu. Dengan peristiwa ini, dua murid Emaus itu menjadi saksi akan k ebangkitan Yesus. Dua kali mereka mengalaminya: dalam perjalanan dan dalam rumah. Ini tanda bahwa Yesus memang benar-benar ingin membuka mata mereka. Boleh jadi kita juga tidak bisa membuka mata saat Yesus hadir melalui sesama yang bercakap-cakap dengan kita. Seoang komentator dari Italia mengatakan, Emaus adalah simbol keseharian kita. Emaus bukan tempat atau kota. Kalau begitu kita boleh bilang Emaus adalah keseharian kita seperti pasar, sekolah, tempat kerja, gereja bahkan alun-alun kampung dan kota. Jika Yesus hadir di tempat ini, mengapa ...

YESUS MENYADARKAN THOMAS

Gambar
Minggu, 8 April 2018 YESUS MENYADARKAN THOMAS Yoh 20: 19-30 FOTO: parrocchiacampiglia.it Thomas sama dengan beberapa murid lainnya yang sulit percaya tanpa bukti fisik. Boleh jadi kita juga demikian. Bukti fisik bagi Thomas amat penting. Saking pentingnya sampai-sampai kesaksian teman-temannya pun diabaikan.  Yesus tahu benar keadaan ini. Ia pun tak gentar masuk dan membuka mata dan hati mereka: hadir di tengah para murid yang sedang berkumpul, dan menyuruh Thomas memasukkan jarinya ke bekas luka di tubuh Yesus. Kepada para murid, Yesus memberi DAMAI, ROH KUDUS, dan RAHMAT PENGAMPUNAN. Inilah hadiah terindah bagi para murid—dan bagi kita—dari Yesus yang bangkit. Jika Thomas melihat langsung dan percaya, kita tidak melihat tetapi percaya. Inilah yang disebut berbahagia oleh Yesus. Ini tidak mudah namun jika kita mau membuka hati, kita akan mampu berkata, “Ya Tuhan dan Allahku,” seperti ungkapan kekagetan Thomas.  Selamat hari Minggu, Tuhan member...

MINGGU PALMA

Gambar
Minggu, 25 Maret 2018 MINGGU PALMA PICTURE: jw.org Yesus memasuki kota Yerusalem, disambut meriah bagai Raja. Memang Dia raja tapi tidak seperti raja duniawi. Dia adalah utusan Bapa untuk merajai hati kita. Sambutan ini sebenarnya adalah pintu masuk dalam puncak iman kita sebagai orang Kristiani. Minggu Palma menandai awal Pekan Suci. Setelah sambutan gegap gempita, Yesus masuk dalam sengsara, wafat, dan bangkit.  Minggu palma ibaratnya di atas gunung lalu turun pada Kamis Putih dan turun lagi pada Jumat Agung lalu menanjak lagi pada Sabtu Suci hingga puncaknya pada Minggu Paskah. Inilah rangkaian perayaan penting dalam Gereja Katolik dan menjadi inti iman kita. Minggu Palma juga menjadi penanda sejauh mana kita telah menjalankan Puasa dan Pantang kita selama 40 hari ini