Kesederhanan, kemurahan hati, dan ketulusan mengantar kita pada Allah. Inilah yang ditunjukkan Janda Miskin dalam Injil dan Daniel dkk dalam Bacaan I. Selamat beraktivitas.
Minggu, 29 April 2018 AKULAH POKOK ANGGUR DAN KAMU RANTINGNYA Yoh 15: 1-8 FOTO: duniaplant.blogspot.com Injil Minggu Paskah ke-5 ini amat menarik. Yesus menyebut dirinya Pokok Anggur dan kita sebagai ranting-rantingnya. Dari sini tampak bahwa Yesus ingin bersatu dengan kita. Ia ingin agar kita hidup dengan-Nya. Ranting akan selalu menyatu dengan pohonnya. Buah yang dihasilkan berasal dari pohon. Maka, ranting memang mesti menyatu dengan pohon. Kita mesti menyatu dengan Yesus. Yang tidak berbuah—kata Yesus—akan dipotong agar menghasilkan buah. Kita memang seperti anggur itu. Jika kita tidak menyatu dengan Yesus kita akan seperti ranting yang tidak berbuah. Maka, kita mesti menyatu dengan pokok anggur yakni Yesus. Sarana persatuan ini banyak: Sabda Tuhan, Sakramen-sakramen, dan praktik devosi. Melalui sarana inilah kita menyatu dengan Yesus. Cobaan hidup kita adalah proses menuju pembuahan. Jika kita menyatu dengan Yesus, cobaan itu ...
Senin, 10 September 2018 BUTUH DISEMBUHKAN Lukas 6: 6-11 Jika kita terbiasa melihat yang baik, segala sesuatu akan terlihat baik. Sebaliknya jika kita terbiasa melihat yang buruk, segala sesuatu akan terlihat buruk. Beginilah gambaran orang Farisi dan Ahli Taurat dalam Injil hari ini. Mereka tidak bisa melihat kebaikan yang Yesus lakukan; menyembuhkan orang yang mati tangannya. Mereka malah melihat kebaikan ini sebagai perbuatan melanggar hukum. Alasannya, dibuat pada hari Sabat dan di Bait Allah pula. Boleh dibilang mereka datang ke tempat kudus ini hanya untuk melihat sisi negatif dari perbuatan Yesus. Mereka ini sebenarnya yang butuh disembuhkan. Orang cacat tangan tadi punya niat baik datang ke sini yakni untuk disembuhkan. Tetapi, sepertinya orang Farisi dan Ahli Taurat mesti disembuhkan juga. Kita kadang seperti orang Farisi; cenderung melihat sisi negatif dari orang yang kita tidak suka. Jadinya, semua yang dia perbuat adalah buruk. Kita butuh disembuhkan....
Minggu, 9 September 2018 BELAJAR DARI “JOJO” Markus 7: 31-37 Beberapa tahun lalu, saya tinggal di panti asuhan. Di sana saya bertemu banyak orang cacat fisik. Saya kagum dengan seorang anak kecil yang bukan saja tuli tetapi juga tidak bisa bicara. Komunikasi kami waktu itu hanya dengan bahasa simbol. Misalnya dengan memperagakan cara mengambil sendok dan memasukkannya ke mulut untuk mengatakan makan. Sedangkan untuk minum kami memperagakan cara memegang gelas lalu memasukkannya ke mulut. Kekaguman saya makin besar saat saya tahu bahwa dia mengerti bahasa simbol saya. Kedua bahasa simbol di atas hanyalah contoh dan biasa kami gunakan dalam komunikasi sehari-hari dengan mereka. Reaksinya masih saya ingat saya dia mengerti bahasa saya: dia akan tersenyum dan melihat saya. Dalam Injil hari ini, kita berjumpa dengan orang semacam ini. Orang-orang membawanya pada Yesus. Sayangnya dia tidak bisa berkomunikasi dengan Yesus. Mulut dan telinganya tertutup. Yesus pun memperla...
Komentar
Posting Komentar